Tiga Mahasiswa Menemukan Planet di Luar Tata Surya

December 5th, 2008 by ratona

Penemuan exoplanet bukan lagi sesuatu yang baru. Tapi, setiap penemuan adalah unik dan memperkaya pengetahuan akan exoplanet (dan pada akhirnya menuju pemahaman akan Tata Surya kita sendiri). Apa menariknya penemuan kali ini?


Tiga mahasiswa Universitas Leiden, penemu exoplanet OGLE2-TR-L9 b. Credit: Observatorium Leiden

Pertama, ditemukan oleh mahasiswa tingkat sarjana. Kedua, planet yang ditemukan itu sendiri memang unik. Sepanjang sejarah penemuan exoplanet, baru kali ini ditemukan planet yang mengorbit bintang yang rotasinya sangat cepat. Bintang itu juga bintang terpanas yang sejauh ini dideteksi memiliki planet. Mahasiswa-mahasiswa itu adalah Meta de Hoon, Remco van der Burg, dan Francis Vuijsje. Mereka terhimpun dalam proyek riset di bawah bimbingan Dr. Ignas Snellen.

Lebih lengkapnya baca di langitselatan.com.

*****
P.S:
Hiks, Ignas Snellen…. Terasa menohok:
1. Dulu, dulu sekali, aku pernah mencoba mendaftar PhD di bawah bimbingan Dr. Snellen, tapi gagal. Kesempatan kedua juga aku lewatkan. Ceritanya ada di sini.
2. Waktu kuliah S2 melakukan observasi transit, nggak bisa menyimpulkan apakah benar terjadi transit karena ketidakcukupan data dan waktu untuk observasi (sebagian cerita, nyambung-nyambung dikiiiit, ada di sini).Eeeh, barudak Leiden university, masih S1 sudah nemu exoplanet hihihihihi.
3. Pas lagi hoream dengan kerjaan, eeeh baca berita seperti ini, impian lama semakin menari-nari di depan mata dan mengejekku kenapa aku nggak gigih, dan lebih gigih lagi berusaha kalau memang itu cita-citaku

Ingkar Janji

October 13th, 2008 by ratona

Di sini aku bilang bakal puasa beli buku, nyatanya: nggak bisa nahan diri buat belanja kalau di Bandung mah. Iyah, kemarin lusa pas berakhir pekan di Bandung, seperti biasa ke toko buku (aneh, kayak di Jakarta nggak ada toko buku aja ya :p). Dan, memutuskan menambahkan item ke daftar utang baca buku, yaitu:

1. Lagi-lagi, Grace Aja!
Buku barunya mantan juragan kebab :D
2. Va’ Dove Ti Porta Il Cuore (Pergilah Ke Mana Hati Membawamu)
Berhubung sedang di persimpangan jalan, mudah-mudahan dengan membaca buku ini aku menemukan inspirasi. Alassssssaaaaaannn.

Buku pertama nggak jadi masuk daftar utang karena langsung tamat dibaca dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Hmm…

Politik di Negeri Kappa

August 11th, 2008 by ratona

Kejadian tiga
minggu lalu (ah, nggak usah diceritain ya) serta merta mengingatkanku
pada suatu kisah di negeri Kappa yang kubaca dari novel Kappa karya
Ryunosuke Akutagawa.


Ini cover novelnya. Nggak nemu gambar yang lebih gede :D (sumber:
sekarmeta.net)

Alkisah, seorang manusia terlempar ke negeri kappa
dan telah berhasil menyesuaikan diri dengan kehidupan di negeri kappa
yang budayanya terjungkir balik dari apa yang umum ada di dunia
manusia. Salah satu kawan dalam pergaulannya adalah kappa direktur
pabrik gelas raksasa bernama Gael.

Suatu
hari manusia ini sedang berbincang dengan Gael. Gael bertutur padanya
tentang Partai Quorax yang baru saja berkuasa. Partai ini bervisi
menaikkan kesejahteraan seluruh negeri kappa. Pemimpin Partai Quorax
adalah seorang negarawan bernama Loppe. Menurut Gael semua
pidato-pidato publik (termasuk yang diserukan Loppe) merupakan kumpulan
kebohongan belaka. Anehnya - oh, tapi konsep yang kita pahami memang  -
semua kappa sadar akan hal itu sehingga akhirnya tidak diragukan lagi
pidato itu diucapkan dengan jujur. Nah, Loppe-lah pengatur Partai,
namun dia sendiri diatur oleh kappa pemimpin koran Pou Fou bernama Qui
Qui. Di belakang Qui Qui ini tidak lain dan tidak bukan adalah Gael
sendiri! Ouh! Itu belum puncaknya. Gael menjelaskan pada sang manusia,
"Dan, segalanya menjadi lebih rumit bahwa Gael sendiri di bawah ibu
jari orang lain! Menurutmu siapa dia? Kau tahu! Dia adalah istriku."
Jadi begitulah, sebenarnya Ny. Gael-lah yang mengatur kabinet Quorax.

Waktu
kejadian itu berlangsung sebenarnya rasa marah dan kecewa sedang
menguasaiku. Begitu ingat kisah ruwetnya politik - kalau boleh dibilang
begitu - di negeri kappa, rasa marah dan kecewaku perlahan reda karena
kubayangkan apa yang kulihat saat itu analog dengan kisah Gael di atas
dan aku jadi geli sendiri hihihihihihihi.

Is it a Second Chance?

July 31st, 2008 by ratona
Baruuuuuuu saja aku nulis ini, eh, pas cek e-mail ada forward-an e-mail dari Trimus Kontjret Djambrong tentang kesempatan PhD di Leiden tentang.. apalagi kalau bukan EXOPLANET!!!

————————————————————————————
PhD position at Leiden Observatory on extrasolar planets
————————————————————–

A 4-year PhD position is available at Leiden Observatory in the
field of extrasolar planets. The student will search for and
characterise planets transiting cool red dwarf stars. Planet
transits have proven to give unique and extraordinary insights
into the physical and atmospheric properties of hot, gaseous
giant planets. Transits of much smaller, potentially rocky
planets (such as the Earth) can be studied towards red dwarf
stars. This is possible due to the significantly smaller size of
these cool dwarfs compared to stars of solar type. Several
planets have recently been discovered around red dwarfs,
including a Super-Earth (possibly within the star’s habitable
zone), and one transiting hot Neptune.  Now is the time to
specifically target red dwarfs for transits, and utilise the
full potential of the transit method. The student will mainly
be working on analysis and follow-up of the WFCAM M-dwarf
Transit Survey, which has been awarded 200 nights of observing
time on the 4m UKIRT telescope to our international team.

For this project we seek excellent and enthusiastic candidates,
who are highly interested in observational astronomy.The
astronomy department at Leiden is internationally oriented and
hosts about 40 graduate students of several nationalities.
Further information about the department can be found at
www.strw.leidenuniv.nl.

Applicants should contact Dr. Snellen at the address below
for further information. Applicants should have, or soon obtain,
a masters degree in astronomy or in physics with a strong
astronomy component. Complete applications, including curriculum
vitae (with a list of courses and grades), two letters of
reference, and a letter explaining your interest
in the project, should be sent by the 8st of September 2008 to:

Dr. Ignas Snellen,
Sterrewacht Leiden, PO Box 9512, 2300 RA Leiden, The Netherlands
email: snellen@strw.leidenuniv.nl;
tel: +31 71 527 5838;
fax: +31 71 527 5819
http://www.strw.leidenuniv.nl/~snellen
—————————————————————————————————-

Tahun
lalu, juga ada kesempatan yang sama. Sama-sama dari Dr. Snellen dan
sama-sama tentang transit exoplanet. Hanya saja waktu itu untuk proyek
yang berbeda. Since I’ve been longing for such chance I applied for the
position. And.. tet tot! I was failed. Then another opportunity came
from
IMPRS for Astronomy and Cosmic Astrophysics at the University of Heidelberg.
I was failed, too. Thinking of my dreams, I can’t help thinking that it
is a second chance - ups, even the third one - given to me. Don’t you
think so?

Things I Miss A Lot Lately

July 31st, 2008 by ratona

Relax
Setelah menjalani rutinitas
beberapa bulan belakangan, rasanya ada yang terlewatkan dari yang
sudah-sudah, dari yang biasanya dijalani. Bukan sesuatu yang mendesak
mungkin tapi rasanya tetap aja nggak lengkap. Dan itu adalah…

1. Nonton anime dan atau dorama Jepang yang belum disulihsuarakan.
Ini
kebiasaan di kosan di Bandung selama ini. Ada teman sekos yang
sama-sama berminat belajar bahasa Jepang, dan kami sama-sama menyimak
bahasa Jepang dari anime atau dorama tadi. Berhasil buat dia tapi tidak
buatku hahahaha. Tentu saja karena aku nggak pernah belajar struktur
bahasa Jepang. Yah, seru aja mendengar aksen-aksen yang dibunyikan
pemeran/pengisi suaranya. Ah, tapi mungkin yang paling aku kangeni
adalah tertawa bersama teman nonton itu ketika melihat adegan lucu atau
komentar-komentar aneh bin sompral pada adegan-adegan yang sebenarnya
biasa saja tapi selalu bisa dicari celah untuk dikomentari.

2. Pretending to be Boke and Tsukkomi
Nggak
Boke-Boke atau Tsukkomi-Tsukkomi amat. Istilah Boke dan Tsukkomi kami
kenal dari serial Nodame Cantabile. Dalam serial itu Nodame
kadang-kadang (sering deng) ngerjain partnernya dan partnernya tak bisa
membalas karena terlanjur terjebak dalam permainan si Nodame. We used
terminology Bu Lurah and Dik Carik. None of us played Tsukkomi role,
actually. Both of us were Bokes. And Tsukkomi was other people around
us. Lately, it seems like I have forgotten how to be Boke. A couple of
weeks ago she said to me, "Kamu jelek kalau serius begitu." I should’ve
not take it seriously but at that time I was really uncomfortable with
myself. Felt like there’s a mask covers my face… At that time I
realized how I miss pretending to be Boke. Mungkin istilah yang tepat..
pengennya nggak serius-serius amat begitu hehehe. Serius tapi
santai….

3. Matahari yang tenggelam di balik menara gedung operasional atau Hotel Golden Botique yang kulihat saat pulang kantor.
Sekarang jadi sering pulang malam euy. Nggak sempat menikmati momen-momen matahari tenggelam dan langit meremang jingga.

4. Observing night sky using telescope, especially on detecting exo giant planet transit
Ah,
dulu, kalau lagi males ngamat, aku berdoa semoga langit mendung sampai
subuh. Dulu, bete banget kalau pointing susah banget. Dulu, waktu tidur
berkurang karena
citra-citra bintang dan IgrabbingRAF-ing. Dulu.. Sekarang hal-hal yang kayak gitu malah bikin kangen.

5. Being relax

6.
(Day)Dreaming of working with Subaru, VLT, Keck, or any other large
telescopes installed on the peak of Mauna Kea, in La Palma, in
Switzerland, or in Chile and collaborate with Didier Queloz, Michel
Mayor, Jonathan Lunine, Jim Kasting, and other well-known exoplanet
discoverers/exoplanet research project..

Sekarang rasanya sulit mengimpikan hal-hal demikian. Pasang poster ALMA di kamar aja nggak berani. Pengecut.

7. Discuss any topics related to exoplanets and life beyond our mother Earth

8. Menulis artikel astronomi populer
Jadi nggak enak sama Vivi, dia terus yang ngurusin LS.

9. Listening to the music of my own playlist 

Hmmm,
9 cukup ya hehehehe. Kalau mau nulis Things I Miss A Lot Lately di MP
masing-masing, sooooooooooooooook lah. Mudah-mudahan dengan menulis,
ada jalan untuk mengobati rasa rindu.
~~~~~
Cat.: gambar diambil dari tripadvisor.
Lagi pengen nyebur ke pantai yang berwarna hijau tosca :p Kemarin ke
pantai festival Ancol, tapi kan nggak ngerasain nyebur ke air dan
warnanya juga nggak hijau tosca :D

Hutang Baca dan Puasa Beli-Buku

July 25th, 2008 by ratona

Kalau
membeli buku, belum tentu langsung aku baca. Ada ritual yang biasanya
aku lakukan dulu. Pertama, menyampuli buku dengan plastik mika agar
sampul nggak mudah keriting. Harapannya sih biar bukunya tetap awet
hingga aki-nini :p Kedua, memberi identitas kepemilikan buku. Cukup
nama dan tanda tangan saja. Oh ya, juga tanggal pembelian agar ingat
bagaimana sejarah saat membeli buku yang bersangkutan *halah*.

Nah, kalau sudah membaca, belum tentu langsung aku menamatkannya. Ada yang perlu beberapa
jam saja tapi ada yang perlu harian, bulanan, tergantung tebal-tipisnya
buku. Ya iya lah yaa. Masak ya iya dong :p Tapi, ada satu buku (dalam
koleksiku) yang tidak seberapa tebal tapi entah kenapa aku kurang
greget membacanya - padahal mengisahlan petualangan - dan sampai
sekarang terus tertunda-tunda menamatkannya.
Judulnya The First Men in the Moon karya H.G. Wells yang aku beli sekitar dua tahun lalu. Waktu itu aku sedang tobat-tobatnya menjadi astronom :p

Ketika
ada pasar buku di Gelora Senayan beberapa bulan lalu, aku membeli lima
buku. Delapan deng, tapi tiga di antaranya adalah ensiklopedia yang
kubeli khusus untuk keponakanku tercinta yang (kurasa) tahu-tahu sudah
kelas 4 SD dan adiknya kelas 1 SD. Buku-buku itu adalah:

  1. Salju Kilimanjaro (kumpulan cerpen) - Ernest Hemingway
  2. Anna Karenina 1 - Leo Tolstoi
  3. Anna Karenina 2 - Leo Tolstoi
  4. Relativitas: Teori Khusus dan Umum - Albert Einstein
  5. Khazanah Orang Besar Islam: Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angka Nol - Disunting oleh: RA Gunaldi dan MA Shoelhi

Buku
1 aku beli karena aku masih tertawan oleh gaya Hemingway bercerita
Spanyol dalam buku The Sun Also Rises (halah, padahal suka detail
Spanyolnya tuh :p). Aku
penasaran dengan kisah Anna dan nama Tolstoi yang menjanjikan. Nah, kalau mengenai buku ke-4, mungkin pada saat itu aku sedang kesurupan hehehehe. Kalau buku terakhir itu karena eh karena alasan pribadi yang menyangkut spirituil (menurut ajaran mantan tahanan Cinambo yang kemudian menjadi juragan Kebab Kareem, kalau kecil pakai "i", kalau besar pakai "a" a.s spiritual hihihihi).

Buku
Hemingway aku selesaikan sambil antri mandi, dalam perjalanan pp KA
Jakarta-Bandung yang lumayan sering akhir-akhir ini, dan sebelum tidur
malam. Kadang-kadang aku dibuat bingung dengan maunya si pengarang
(Hemingway
tea!)
tapi justru bikin aku penasaran dan nggak mau berhenti membaca. Dengan
demikian hutang baca berkurang satu. Tapi, empat masih cukup banyak ya,
apalagi buku Anna Karenina itu cukup tebal sementara ukuran huruf yang
dipilih sesemut-semut :p Tampaknya aku perlu puasa beli buku dulu nih.
Nggak yakin bisa sih….

Antara Perempuan dan Pria (Mata Giok)

July 2nd, 2008 by ratona

Prolog: Maaf, ya, juragan kebab Kareem, kali ini aku tidak me-review bukumu, tapi mereview salah satu adegannya saja hihihihihi.
~~~~~
1617094
Membaca
Mata Giok-nya Diane Wei Liang, seseru menikmati gerak-gerik Sherlock
Holmes mengintai pelaku kejahatan. Tapi, masih belum semisterius dan
bikin penasaran plus merinding novel-novel misteri tulisan Agatha
Cristie sih… tapi ada yang tidak ada di kisah keduanya (sepanjang
yang pernah aku baca), yaitu sisi kejiwaan sang detektif dalam
memandang hidupnya sendiri (hubungan keluarga, asmara, dan ideologi).

Nah,
ada satu bagian yang menyentilku. Tentang hubungan yang melibatkan hati
antara perempuan dan pria. Pernyataan-pernyataan dan juga pertanyaan
yang serupa dengan yang pernah aku bahas dengan teman-teman
perempuanku. Sayangnya "simpulannya" agak nggantung, tapi mungkin
memang semestinya begitu - "Aku tahu kau tidak akan mengerti…" -
tanpa perlu dipertanyakan lagi.
~~~~~

Mereka duduk di salah satu bangku.

"Aku
merasa tidak pernah cukup bagimu," kata Yaping. "Kau selalu membuatku
inferior. Tak peduli seberapa keras aku berusaha, standarmu selalu
lebih tinggi."

"Oh, jadi itu salahku?"

"Bukan, itu
salahku. Aku begitu muda dan tidak percaya diri, seorang pemuda dari
selatan, anak kota kecil. Aku mudah tersinggung."

Yaping menghela napas panjang. Bahunya melemas.

"Kemudian
aku bertemu istriku. Tidak, seharusnya aku bilang mantan istriku, di
pesawat menuju Chicago. Dan yang membuatku kaget, dia mendekatiku.
Kuduga dia berpikir bahwa aku memiliki sesuatu yang berharga. Dan tebak
apa? Aku menyukainya. Itu adalah kesempatan yang bagus, untuk dikejar,
dan tidak perlu merasa harus membuktikan kepada diriku sendiri. Dan,
pasti terdengar bodoh, aku suka merasa dibutuhkan. Kau tak pernah
membutuhkan aku atau orang lain. Biasanya aku merasa tak berguna di
dekatmu. Dan kadang-kadang kau menarik diri. Aku tak bisa meraihmu.
Sepertinya kau ingin mendorongku menjauh. Apakah tak beralasan bagi
seorang pria, ingin merasakan keintiman, untuk merasa ingin menolong
dan melindungi wanita yang ia cintai?"

"Kau lebih memilih bersama seseorang yang lemah?"

"Tidak, bukan begitu maksudku. Aku adalah seorang lelaki, kau mengerti? Seharusnya aku menjadi pelindungmu."

"Aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Aku tahu kau tidak akan mengerti."

[Buku] Namaku Grace Aja!

June 11th, 2008 by ratona

26271e9de8c423db0d7b25e9a16de196
Genre : Buku Anak-Anak

Pengarang : Charise Maricle Harper
Penerjemah : Maria M. Lubis
Penerbit : Penerbit Atria

Sejak
pertama, sejak juragan kebab Kareem mempromosikan buku barunya, aku
sudah jatuh cinta sama sampul buku ini. Orang bilang don’t judge a book
by its cover tapi love is blind, bukan? Hehehehe. Tapi ternyata nggak
salah kok dan …

Aku jatuh cinta sama Grace Stewart yang tanpa
sengaja dipanggil Grace Aja (bukan Grace aja!). Mungkin sebenarnya aku
menyukai Charise, si penulis, tapi aku anggap Grace itu penjelmaan
Charise. Aku juga tidak masalah dengan Sammy Stringer yang jorok dan
selalu sengaja atau tanpa sengaja bikin masalah (namanya juga
anak-anak….).

Grace juga menyuarakan isi hatiku: malas untuk
tumbuh dewasa hahahaha. Aku suka Grace (dan Charise) ketika menggambar
komik. Itu seperti yang kulakukan waktu jaman sekolah dan kuliah dulu,
ketika merasa jenuh dengan suasana kelas. Jadi, buku ini punya banyak
gambar. Gambar Cherise, gambar Grace. Lucu sekali! seperti misalnya
gambar senyuman Mrs.Luther mirip senyuman buaya dan komik-komik Tidak
Begitu Super.

Aku terpikat dengan empati yang diibaratkan
dengan kekuatan super. Kekuatan super itu mendorong si pemilik (Grace!)
untuk berbuat sesuatu, nggak NATO - no action talk only. Meskipun
dampak dari kekuatan super itu tidak seperti yang diharapkan namun
semuanya (tetap) berakhir baik. Ada makhluk lucu di buku ini. Namanya
Crinkles, a lovely cat. Nah, dia ini tokoh dalam aksi kekuatan super
Grace.

Grace eh Charise seperti menggabungkan tulisan untuk
Chicken Soup dan tips and tricks, dan jurnal harian. Enak banget
dibaca, seperti membaca isi kepala sendiri (ketika masih kanak-kanak).

Today, A Year Ago

June 9th, 2008 by ratona

521o1068c_flying_over_sacramento_16x20Mengapa
kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak
begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga
kadang-kadang sebenarnya susah mempertahankan ingatan atas seseorang
itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah
warna? *

Apakah
aku mengembara untuk mencari ilmu? Jangan-jangan sebenarnya aku pergi
menyeberangi laut, mendaki gunung, menuruni lembah dari negeri satu ke
negeri lain hanya untuk lari dari persoalan, lari dari kenyataan bahwa
aku sebenarnya tidaklah terlalu tabah menghadapi penderitaan.**

Today a year ago I learned to fly
Fly to far, far away country
What have I learnt so far?
~~~~~
Catatan:
* oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen Tempat yang Terindah untuk Mati
** oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen cerpen Negeri Kabut

Gambar diambil dari stagenine.com

Serangkaian Satelit Mendeteksi Pengaruh Polusi pada Awan

May 28th, 2008 by ratona

Belajar menulis… sudah lama nggak nulis… Daya konsentrasi menurun, kecepatan membaca juga menurun Apa yang tidak turun? Emosi jiwa
~~~~~

Selama
ini awan menjadi semacam penghalang bagi satelit untuk mendeteksi
bagian terdasar dari atmosfer Bumi. Namun, ada hikmah dibaliknya.
Kendala ini justru menjadi pusat perhatian karena bagaimanapun awan
turut berperan dalam iklim Bumi. Polusi telah lama diamati berkaitan
dengan awan. Afternoon Constellation atau umumnya disebut A-Train,
serangkaian
satelit yang beriringan serupa konstelasi mengorbit Bumi, berupaya
mencari kaitan antara awan, polusi, dan curah hujan.


Ilustrasi
bagaimana satelit-satelit yang tergabung dalam Afternoon Constellation
terbang dalam formasi selama mengelilingi dan mengobservasi Bumi
(sumber: NASA).


Kaitan antara hujan dan polusi berhasil "dibaca" berkat pengukuran yang hampir simultan dari
satelit-satelit
A-Train. Pertama, satelit Aura mengukur kandungan karbon monoksida di
dalam awan. Adanya zat ini mengindikasikan adanya asap dan aerosol
lainnya yang biasanya berasal dari sumber emisi, misalnya kebakaran
lahan pertanian.

Kemudian satelit Aqua yang mampu membedakan mana awan yang terpolusi dan mana yang masih bersih melanjutkan tugas. Piranti Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer yang dimilikinya mempelajari bagaimana partikel es berubah ukuran ketika aerosol polutan terkandung dalam awan.   

Sementara itu, satelit Tropical Rainfall Measuring Mission milik NASA mengukur jumlah presipitasi (bisa berupa hujan, salju, ataupun es) yang jatuh dari awan baik yang sudah tercemar maupun yang masih bersih. 

Tim Jonathan Jiang (NASA’s Jet Propulsion Laboratory)
mendapati bahwa awan yang tercemar mengurangi jumlah curah hujan selama
bulan Juni-Oktober (musim kering) di Amerika Selatan. Pada bulan-bulan
ini juga sering terjadi kebakaran lahan. Selama periode tersebut
partikel-partikel es yang kecil di dalam awan yang tercemar sulit untuk
tumbuh cukup besar dan menjadi hujan.

Para
pakar juga mengemukakan bahwa dinamika skala besar dan hujan yang
membersihkan udara dari partikel aerosol turut berperan. Rumitnya
kaitan antara aerosol dan awan menimbulkan kesulitan yang belum bisa
dipecahkan oleh instrumen selama ini. Namun, jika parameter-parameter
dari berbagai satelit dikumpulkan dan ditelaah, akan lebih banyak
informasi yang bisa ditarik dibandingkan jika menggunakan instrumen
tunggal. Selaras dengan perkataan "banyak kepala lebih baik dari satu
kepala", hmm?